Stephan El Shaarawy: Si Firaun Kecil yang Pernah Jadi Harapan Milanisti

Di era awal 2010-an, Serie A punya satu bintang muda yang bikin fans Milan gak bisa tidur tenang karena excited—bukan karena takut. Namanya Stephan El Shaarawy, winger dengan gaya main cepat, gaya rambut nyentrik, dan teknik yang bisa bikin bek terpeleset dua kali. Fans Milan waktu itu sampai kasih julukan spesial: “Il Faraone”—Si Firaun.

Kenapa? Karena dia punya darah Mesir, lahir di Italia, dan mainnya kaya gabungan antara flair Timur Tengah dan taktik Eropa. Tapi, kayak banyak cerita wonderkid, karier El Shaarawy juga gak selalu mulus. Dari “anak emas Milan” sampai “pemain yang nyaris hilang arah,” ini perjalanan salah satu talenta paling menjanjikan yang Italia pernah punya.

Awal Karier: Lahir di Italia, Darah Mesir

El Shaarawy lahir tahun 1992 di Savona, Italia, dari ibu Italia dan ayah Mesir. Sejak kecil, dia udah punya skill yang beda dari anak-anak seusianya. Umur 16 tahun, dia udah debut buat Genoa di Serie A—salah satu debutan termuda di liga waktu itu.

Tapi karena kesempatan main di Genoa terbatas, dia dipinjamkan ke Padova di Serie B. Nah, di sinilah namanya mulai naik. Main di sayap, nyetak gol keren, dan bantu klub ke babak playoff promosi. Performa gila itu bikin AC Milan langsung ngelirik dan nebus dia tahun 2011.

Dan sejak saat itu, nama El Shaarawy langsung masuk daftar wonderkid top Eropa.

Puncak Popularitas: Jadi Raja Milan Saat Semua Bintang Pergi

Tahun 2012/2013 jadi titik paling gila dalam karier El Shaarawy. Setelah Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva dijual ke PSG, fans Milan sempat down. Tapi tiba-tiba, muncul bocah 20 tahun yang langsung ngegas di awal musim.

Lo bayangin: dia nyetak 16 gol di setengah musim pertama, nge-dribble kayak Ribéry, dan nendang kayak Totti. Rambut mohawk-nya jadi simbol harapan baru. Semua orang bilang: “Inilah wajah baru AC Milan.”

Bahkan waktu Milan lagi kesulitan nyetak gol, El Shaarawy tetap konsisten. Dia bawa Milan balik ke zona Liga Champions, dan jadi top scorer klub musim itu. Di usia 20 tahun, dia bener-bener jadi pemimpin tim di lapangan. Gokil? Banget.

Tapi sayangnya, fase emas itu gak bertahan lama.

Cedera: Momen yang Ngerem Semua Ledakan

Setelah musim magis itu, El Shaarawy mulai diganggu cedera. Dari kaki kanan, pindah ke kaki kiri, lalu punggung. Semua datang bertubi-tubi. Parahnya, setiap kali dia comeback, ritme mainnya udah turun dan dia susah nemu bentuk terbaiknya lagi.

Pelatih silih berganti, Milan makin gak stabil, dan dia makin tersisih. Dari starter mutlak, dia jadi pilihan rotasi. Dari bintang utama, dia jadi pemain yang “butuh pembuktian.”

Musim 2013/14 dan 2014/15 benar-benar jadi masa gelap. Fans yang dulu histeris tiap dia nyetak gol, mulai lupa bahwa dia pernah jadi top scorer klub. Tapi satu hal yang tetap kelihatan: El Shaarawy gak pernah nyerah.

Pindah ke Roma: Cari Napas Baru, Dapat Tempat Nyaman

Setelah Milan, El Shaarawy sempat nyoba peruntungan di Monaco (dipinjam dari Milan), tapi gagal bersinar. Akhirnya tahun 2016, dia gabung AS Roma, dan mulai nemu dirinya lagi.

Di Roma, dia gak jadi bintang utama, tapi dia main dengan lepas. Gak terlalu dibebani ekspektasi, tapi tetap dikasih kebebasan buat eksplorasi sayap kiri. Dia cetak gol penting, bantu Roma bersaing di Serie A dan Eropa, dan mulai dapet respect lagi dari publik Italia.

Salah satu momen terbaiknya? Brace lawan Chelsea di Liga Champions 2017. Dia bikin gawang Courtois jebol dua kali dalam waktu 36 menit. Fans Roma histeris. El Shaarawy kembali headline.

Petualangan di China: Dilema Uang vs Karier

Tahun 2019, El Shaarawy ambil keputusan mengejutkan. Di usia 26, dia pindah ke Shanghai Shenhua di Liga Tiongkok. Banyak yang kecewa karena dia masih muda dan punya level buat bersaing di Eropa. Tapi dia ambil jalur beda.

Di China, dia gak main jelek. Gol tetap ada, performa stabil, tapi ya… level kompetisinya beda. Publik Italia mulai lupa lagi sama dia. Bahkan pelatih timnas sempat gak panggil dia lagi karena dinilai “gak bersaing di level tertinggi.”

Tapi yang menarik, El Shaarawy tetap jaga level fisik dan mental. Dan itu kebukti waktu dia balik ke Roma tahun 2021.

Balik Lagi ke Roma: Comeback Sang Firaun

Setelah dua tahun di Tiongkok, El Shaarawy balik ke AS Roma dan langsung jadi bagian penting dalam rotasi pelatih José Mourinho. Di sistem Mou, dia sering main sebagai winger, second striker, bahkan kadang fullback hybrid. Dia fleksibel, dan yang paling penting: dia udah jauh lebih dewasa.

Gak ngoyo pamer skill, gak maksa nyetak gol, tapi bantu tim secara kolektif. Dia juga tetap punya momen clutch—kayak gol telat lawan Spezia, atau kontribusi krusial di Liga Europa saat Roma masuk final 2023.

Dari wonderkid jadi veteran. Dari bahan harapan jadi pembawa keseimbangan.

Gaya Main: Dribble Tajam, Finishing Cepat, Tanpa Banyak Basa-Basi

El Shaarawy punya gaya main khas: cut inside dari kiri, shoot cepat sebelum bek nutup. Tekniknya halus, sentuhannya rapi, dan dia punya kecepatan yang bisa langsung bikin bek kehilangan arah.

Waktu prime, dia kayak versi kiri dari Robben—ngedribble ke dalam dan langsung shoot. Tapi makin dewasa, dia tambah dimensi: bisa crossing, bisa link-up play, bahkan bantu pressing dari depan.

Dia bukan striker, bukan gelandang, tapi bisa main di mana aja di lini depan. Dan itu yang bikin pelatih senang: dia fleksibel dan paham tugas.

Warisan El Shaarawy: Dari Wonderkid ke Pejuang Diam-Diam

Banyak orang mungkin udah lupa hype El Shaarawy di 2013. Tapi buat fans Milan, Roma, dan sepak bola Italia secara umum, dia tetap spesial. Karena gak banyak pemain yang bisa bangkit setelah fase cedera dan tekanan segila itu.

Dia mungkin gak jadi superstar global. Gak kayak Mbappé, Haaland, atau Neymar. Tapi dia tetap profesional, tetap kerja keras, dan tetap bisa kasih kontribusi nyata.

Dan yang paling penting? Dia tetap main di level atas di usia 30+, tanpa drama, tanpa keluhan, dan dengan loyalitas penuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *